TERBARU

Seputar Ketentuan Bepergian dalam Islam

Seputar Ketentuan Bepergian dalam Islam
Seputar Ketentuan Bepergian dalam Islam

Qumedia - Dalam kehidupan seorang Muslim, aktivitas bepergian atau safar bukan sekadar rutinitas berpindah tempat, melainkan juga bagian dari perjalanan spiritual yang sarat makna. Islam sebagai agama yang sempurna telah mengatur berbagai aspek kehidupan, termasuk adab dan ketentuan saat safar agar setiap langkah yang diambil tetap berada dalam koridor ketaatan kepada Allah SWT. Mulai dari niat, adab perjalanan, hingga doa-doa yang dianjurkan, semua ini menjadi bekal penting agar safar bukan hanya membawa manfaat dunia, tapi juga menjadi ladang pahala di akhirat.

Seputar Ketentuan Bepergian dalam Islam

1. Manusia sebagai Mukalaf

Makhluk hidup dikategorikan ke dalam tiga klasifikasi dalam istilah bahasa Sunda, yaitu makhluk cicing, makhluk nyaring, dan makhluk éling. Kategori pertama merupakan makhluk yang tidak dapat bergerak seperti batu, tanah, atau seperti tumbuhan yang mengalami pertumbuhan namun tetap tidak bergerak kecuali ada yang memindahkan. Kategori kedua merupakan makhluk yang dapat bergerak, tumbuh, dan berkembang seperti hewan. Namun, mereka tidak diberikan bebat syariat. Sedangkan kategori ketiga ialah manusia. Makhluk ini selain dapat tumbuh, bergerak, namun jika kian sempurna karena Allah SWT bekali akal. Oleh karenanya, manusia dibebankan syariat (mukalaf) dan setiap tindak perilakunya akan dihisab pada hari Kiamat kelak.

يأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوالله وَالْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُو اللَّه عَلى إِنَّ اللَّهَ خبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ. (الحشر: 18)

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (Qs. Al-Hasyr [59]: 18)

2. Manusia Tidak Lepas dari Aktivitas Bepergian (Safar)

Manusia sebagai makhluk yang bergerak tak lepas dari aktivitas bepergian, baik jarak yang dekat maupun yang jauh. Setiap orang pasti pernah mengalami bepergian jauh dalam rangka memenuhi kebutuhannya. Entah itu bepergian dalam rangka bekerja, bersilaturahim, mengunjungi suatu teman, atau sekedar rekreasi. Namun, dalam Islam, kegiatan bepergian ada aturan dan adab-adabnya. Tentunya, agar aktivitas tersebut bukan sekedar rutinitas atau urusan duniawi belaka, melainkan agar kegiatan tersebut dapat bernilai ibadah dan berbuah pahala di sisi Allah SWT.

قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ سُنَنٌ لا فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ. (ال عمران (3)

Sungguh, telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah (Allah), karena itu berjalanlah kamu ke (segenap penjuru) bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS. Ali Imran [3]: 137)

3. Ruang Lingkup Safar dalam Islam

Dalam agama Islam perihal bepergian (safar) sudah diatur sedemikian rupa. Oleh karenanya, hendaknya seorang muslim memliliki wawasan seputar ruang lingkup safar dalam Islam. Mulai dari definisi, kategori, keistimewaan orang safar, penyebab tenangnya dalam safar, amal pelebur dosa saat safar, dan fiqih safar.

Musafir berasal dari kata Safara. Safara menurut bahasa artinya lalu, pergi, berlayar, berjalan, mengembara, dan sebagainya. Kata-kata Safara di dalamnya mengandung pengertian; terbuka (dari tempat-tempat kediaman), dan terang. Sedangkan orang yang melakukannya disebut Musafir yang artinya orang yang lalu (lewat), yang pergi, yang berlayar, yang berjalan, yang mengembara, dan sebagainya. Oleh karenanya, dikatakan Musafir karena orang tersebut keluar daerah tempat kediamannya, baik darat maupun laut.

Para ulama mengkategorikan safar menjadi 3, yaitu: 1) Safat Tho'ah (bertujuan ibadah seperti ibadah haji, umrah, berjihad, menuntut ilmu, bekerja); 2) Safar Mubah (piknik, rekreasi, mengunjungi sanak saudara, dll); dan 3) Safar Maksiat (berjudi, berzina, berkunjung ke tempat maksiat, tempat kemusryrikan, dll).

Keistimewaan Orang-orang Safar meliputi: 1) diberikan keringanan, misalnya jamak dan qasar shalat serta tayamum, (Qs. 4: 101); 2) doanya tidak ditolak (Hr. Abu Dawud); (dengan ketentuan bersih dari makan makanan haram, setia terhadap pasangan, senantiasa beribadah kepada Allah, menjadikan Al-Qur'an sebagai panduan, setia pada anak dan orang tua, dan tidak mengabaikan teman safar);

Lima langkah agar jiwa tenang saat safar meliputi: 1) keimanan sebagai pondasi, 2) menghadapi ujian safar dengan keimanan, 3) meyakini Allah sebagai Penyelamat, 4) bersikap optimis dan berbaik sangka kepada Allah, dan 5) meminta orang doa orang saleh yang menyertai.

Amal-amal pelebur dosa di kala safar terdiri dari: 1) senantiasa bertakwa kepada Allah, 2) menjauhi dosa, 3) berani memaafkan orang lain dan berlapang dada saat menghadapi permasalahan dalam perjalanan, 4) menyingkirkan sesuatu yang membahayakan di tengah jalan, 5) menyayangi makhluk Allah, 6) musibah sebagai upaya meraih ampunan dan berkah, 7) berupaya untuk bersedekah, beramar ma'ruf nahyi munkar, 8) berupaya berhaji/umroh yang diterima Allah (mabrur).

Adab dalam kegiatan safar yaitu: 1) alat transportasi merupakan ciptaan Allah (Qs. 16: 8), 2) mempersiapkan kendaraan yang baik, 3) memiliki niat yang baik dan mengakui nikmat Allah, 4) senang pergi pada pagi hari, 5) senantiasa berdoa dan berdzikir ketika berkendara, 6) ada hak istirahat untuk kendaraan, 7) senantiasa mematuhi aturan lalu lintas, 8) menyempatkan tidur ketika perjalanan malam hari, 9) memperhatikan adab dalam bertamu, dan 10) menerapkan adab berhaji/umroh.

Berikut adalah beberapa perihal fiqih safar, meliputi: 1) orang safar boleh tayamum walaupun ada air (Qs. 4: 43); 2) penggunaan istilah/pelaksanaan Walimatus-Safar (lebih tepat menggunakan istilah muwada'ah (pamit/menitipkan)); 3) jumlah rakaat shalat maghrib tidak dapat diqasar; 4) Menqasar shalat (agar tak memberatkan umat); 5) Musafir hendaknya mengambil sedekah dari Allah (rukhsoh); 6) ketentuan dua marhalah/tiga farsakh/3 mil (berlaku rukhsoh sesuai kepantasan safar); 7) perempuan hendaknya bepergian bersama mahram atau yang menjamin keamanannya; 8) menqasar shalat bukan seputar wajib tidak, melainkan rukhsoh; 9) batasan waktu safar (selama safar boleh melakukan rukhsoh); 10) orang safar dan mukim boleh menjamak shalat (tidak secara rutin dan hanya jamak takhir), sedangkan orang safar boleh menjamak dan qasar shalat karena safarnya; 11) pasca safar, rukhosh tidak berlaku; 12) musafir pulang waktu masih ada tidak perlu memperbaharui shalat (karena sudah dijamak dan qasar); 13) orang safar memiliki takhyir atau pilihan antara shalat Jum'at dan Dzuhur; 14) shalat sunnah tetap diperbolehkan di kala safar (shalat tahyatul masjid, sukrul wudlu, dhuha, dan shalat sunat lainnya); 15) shalat qobliyah shubuh tetap ada; 17) musafir boleh tidak shaum atau berbuka, namun wajib mengqadlanya; 18) mukim dan musafir boleh shalat menggunakan sepatu; 19) ketentuan mandi wajib tetap berlaku ketika safar (kecuali tidak ada air boleh diganti dengan tayamum); 20) musafir boleh shalat di kendaraan; 21) musafir boleh jadi imam dan bermakmum kepada yang muqim; 22) ketentuan shalat jama takhir boleh dengan mendahulukan yang punya waktu atau tidak; dan 23) menghindari perilaku syirik ketika safar seperti melihat burung (tathayur) dan kepercayaan terhadap hari sial.

4. Beberapa Doa Ketika Safar

a. Mengangkat Amir dalam Perjalanan

Dari Abu Hurairah RA berkata; Rasulullah SAW bersabda: "Jika keluar tiga orang dalam bepergian, hendaklah mereka mengangkat salah seorang sebagai pemimpin rombongan (Hr. Abu Daud).

b. Perempuan Tidak Bepergian Sendiri Kecuali Disertai Mahram atau yang Menjamin Kemanannya

Dari Abu Hurairah RA, berkata; Rasulullah SAW bersabda: "Tidak halal bagi seorang wanita yang terpercaya kepada Allah dan hari Akhir bepergian dalam perjalanan sehari semalam kecuali bersama mahramnya. (Hr. At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi, 4: 386)

c. Doa Mengantar Orang yang Bepergian

Dari Qaz'ah RA berkata; Ibnu Umar RA berkata kepadaku: Marilah ke sini, aku akan mendo'akanmu sebagaimana Rasulullah SAW pernah mendo'akanku; ALLAAHA DIINAKA WA AMAA-NATAKA WA KHAWATIIMA 'AMALIKA, (Selamat jalan, aku memohonkan semoga Allah memelihara agamamu, amanatmu dan akhir dari amal- amalanmu). (Hr. Abu Daud)

d. Doa Ketika Melewati Jalan Mendaki dan Menurun

Dari Jabir RA berkata; "Kami apabila mendaki bertakbir, dan apabila menurun bertasbih. (Hr. Bukhari)

e. Doa Agar Diberikan Kemudahan dalam Perjalanan

Dari Abu Hurairah RA, sesungguhnya seorang laki-laki berkata: Ya Rasulullah! Sesungguhnya aku ingin mengadakan perjalanan, maka nasihatilah aku. Rasul bersabda: "Hendaklah engkau selalu bertakwa kepada Allah dan bertakbirlah pada tiap-tiap tempat yang tinggi. Ketika orang itu berpaling. Rasul berdo'a ALLAAHUMMA ATWI' LAHU AL- BU'DA WA HAWWIN 'ALAIHI ASSAFARA, (Ya Allah! Singkatkanlah/dekatkanlah perjalanan yang jauh dan mudahkanlah perjalanannya). (Hr. At-Tirmidzi)

f. Doa di Saat Singgah atau Berkemah di Suatu Tempat

Dari Khaulah binti Hakim RA, berkata; aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: "Siapa yang singgah ke suatu tempat kemudian membaca; A'UUDZU BIKALIMAATI ALLAAHI AT-TAAMAATI MIN SYARRI MAA KHALAQA, (Aku berlindung dengan menyebut kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan yang Dia ciptakan), niscaya tidak ada yang membahayakannya hingga ia berangkat dari tempat singgahnya itu". (Hr. Muslim)

g. Doa Ketika Bermalam di Perjalanan

Dari Ibnu Umar RA, berkata: "Rasulullah SAW apabila mengadakan perjalanan lalu menghadapi malam hari, ia membaca; YAA ARDHU RABBI WARABUKA ALLAAHU, A’UDZU BILLAAHI MIN SYARRIKA WA SYARRI MAA FIIKA WA SYARRI MAA YADUBBU 'ALAIKA WA A'DZUU BIKA MIN SYARRI ASADIN WA ASWADA WA MINA AL- HAYYATI WA AL-'AQRABI WA MIN SAAKINI AL-BALADI WA MIN WAALADIN WAMAA WALADA, (Wahai bumi! Tuhanmu dan Tuhanku adalah Allah. Aku berlindung kepada Allah dari kejahatanmu dan kejahatan yang ada padamu, kejahatan yang dijadikan padamu dan kejahatan yang melata di atasmu. Dan aku berlindung kepada-Mu (Ya Allah) dari singa dan yang hitam, dari ular dan kala, dari penduduk negeri ini dan dari bapak dan anak (jahat)".(Hr. Abu Daud)

h. Jangan Bepergian Sendirian di Waktu Malam

Dari Ibnu Umar RA berkata; Rasulullah SAW bersabda:

"Andaikan orang-orang itu mengetahui bahayanya orang yang berjalan sendirian sebagaimana yang aku ketahui, maka tidak akan ada orang berkendaraan yang berani berjalan sendirian pada waktu malam". (Hr. Bukhari)

i. Bersegeralah Pulang Jika Telah Usai Keperluan

Dari Abu Hurairah RA, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda; "Bepergian itu adalah sebagian dari siksa, seseorang terhalang dari makan, minum dan tidurnya. Maka jika salah seorang dari kamu telah selesai menunaikan maksudnya, hendaklah ia segera kembali kepada keluarganya". (Hr. Bukhari Muslim)

j. Dianjurkan Tidak Pulang Larut Malam

Dari Jabir RA, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: "Apabila salah seorang di antara kamu telah lama pergi, maka janganlah ia mengetuk pintu keluarganya pada waktu malam". (Hr. Bukhari Muslim)

k. Doa Apabila Takut Suatu Kaum

Dari Abu Musa al-Asy'ari RA, sesungguhnya Rasulullah SAW jika merasa khawatir (dari gangguan) suatu kaum, beliau membaca; ALLAAHUMMA INNAA NAJ'ALUKA FII NUHUURIHIM WA NA'UDZU BIKA MIN SYURUURIHIM, (Ya Allah! Sesungguhnya kami jadikan Engkau sebagai pelindung kami (dari tipu daya mereka) dan kami berlindung kepada-Mu dari kejahatan mereka). (HR. Tirmidzi 1. Doa Naik Kendaraan dan Ketika Pulang

Dari Ibnu Umar RA, sesungguhnya Rasulullah SAW apabila sudah duduk dengan tegak di atas untanya dalam rangka keberangkatannya ke suatu perjalanan, beliau bertakbir 3 kali, kemudian membaca; SUBHAANA AL-LADZII SKHKHARA LANAA HAADZAA WAMAA KUNNAA LAHU MUQRINIINA WA INNAA ILAA RABBINAA LAMUNQALI-BUNAA. ALLAAHUMMA INNAA NAS ALUKA FII SAFARINAA HAADZAA AL-BIRRA WA AT-TAQWAA AL-'AMALI MAA TARDHAA. ALLAAHUMMA HAWWIN 'ALAINAA SAFARANAA HAADZAA WATH-WI ANNAA BU'DAHU. ALLAAHUMMA ANTA ASH-SHAAHIBU FII ASSAFARI WA AL-KHALIIFATU FII AL-AHLI. ALLAAHUMMA INNII A'UDZU BIKA MIN WATSAAI AS-SAFARI WAKAAABATI AL-MANZHARI WASUUI AL-MUNQALABI FII MAALI WA AL-AHLI (Maha Suci Allah yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami hanya kepada Allah kami kembali. Ya Allah sesungguhnya kami memohon kepada-Mu dalam perjalanan kami ini kebaikan dan ketaqwaan dan amal yang Engkau ridhai. Ya Allah mudahkanlah perjalanan kami ini dan singkatkanlah perjalanan yang jauh. Ya Allah Engkau-lah yang menyertai kami dalam perjalanan dan Engkau-lah pemelihara keluarga (yang ditinggalkan). Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesulitan perjalanan, kesedihan pandangan dan kejelekan tempat kembali pada harta dan keluarga). Dan apabila pulang ia membaca kembali do'a itu dan menambahnya; AAYIBUUNA TAAIBUUNA *AABIDDUNA LIRABBINAA HAAMIDUUNA, (kami kembali, bertaubat, beribadah dan memuji Tuhan kami. (Hr. Muslim, 1:64)

m. Disunnatkan Shalat Dua Rakaat di Masjid Ketika Pulang

Dari Ka'ab bin Malik RA, sesungguhnya Rasulullah SAW jika tiba dari bepergian beliau mendahulukan masuk ke masjid dan shalat dua raka'at di dalam masjid itu. (HR. Bukhari Muslim)

Safar Bersama Keluarga sebagai Refleksi dan Meningkatkan Jalinan Kasih Sebuah keluarga yang baik hendaknya senantiasa bermuhasabah secara berkala. Kegiatan tersebut dilaksanakan secara pribadi dan seluruh anggota keluarga. Layaknya sebuah organisasi, melaksanakan amanah dalam keluarga untuk menjaga dari api neraka tentunya harus memiliki perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi baik terhadap peran dalam keluarga maupaun program yang telah disusun.

Alangkah baiknya seorang suami mengagendakan program bepergian (safar) bersama keluarganya. Bersama anak dan sanak saudara serta (khusus) berdua bersama sang istri tercinta. Fungsi dari kegiatan ini, selain merefleksi dan menghindarkan dari kejenuhan dalam berumah tangga juga dapat menumbuhkan rasa cinta dan menguatkan jalinan kasih antar anggota keluarga. Di samping tamasya bersama keluarga, sang suami juga harus menggagendakan untuk pergi secara khusus berdua bersama istrinya. Bulan madu kedua dan seterusnya merupakan hal penting yang dapat menguatkan hubungan pasangan suami istri. Qumedia

Penulis: Agung Ega A | Editor: Rifqi Fauzan Sholeh
Reference:
Latest News
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Post a Comment