Kisah Hijrah Nabi Muhammad yang Mengubah Sejarah Dunia

Qumedia - Langkah kaki berdebu menyusuri gurun pasir yang membentang luas. Matahari membakar kulit, namun semangat membara dalam dada. Bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan sebuah transformasi agung yang kelak mengubah wajah dunia. Itulah hijrah, sebuah titik balik krusial dalam sejarah Islam, yang dimotori oleh Rasulullah Muhammad ﷺ beserta para sahabatnya. Peristiwa ini bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan manifestasi ketaatan, keberanian, dan harapan akan masa depan yang lebih baik.
Hijrah, secara harfiah berarti "meninggalkan" atau "berpindah," adalah sebuah perintah Ilahi bagi kaum Muslimin di Mekkah untuk meninggalkan tekanan dan penganiayaan yang semakin berat dari kaum Quraisy. Kaum Quraisy, dengan segala kekuatan dan pengaruhnya, berusaha sekuat tenaga untuk menghentikan penyebaran Islam. Mereka menyiksa, mengintimidasi, bahkan membunuh para pengikut Nabi Muhammad ﷺ. Dalam kondisi yang serba sulit ini, Allah ﷻ memberikan solusi melalui hijrah ke Yatsrib, sebuah kota yang kelak dikenal dengan nama Madinah al-Munawwarah, kota yang bercahaya.
Yatsrib, sebelum hijrah, adalah sebuah kota yang dilanda konflik internal antar suku. Kedatangan Rasulullah ﷺ membawa angin segar, harapan akan persatuan dan kedamaian. Beliau ﷺ bukan hanya seorang pemimpin agama, tetapi juga seorang negarawan ulung yang mampu menyatukan berbagai elemen masyarakat. Piagam Madinah, sebuah konstitusi yang disusun oleh Rasulullah ﷺ, menjadi bukti nyata kebijaksanaan dan keadilan beliau. Piagam ini mengatur hubungan antara kaum Muslimin, kaum Yahudi, dan suku-suku Arab lainnya, berlandaskan prinsip-prinsip keadilan, kesetaraan, dan toleransi.
Keberanian Rasulullah ﷺ dan para sahabat dalam melaksanakan hijrah adalah teladan abadi bagi umat Islam. Mereka rela meninggalkan harta benda, keluarga, dan tanah kelahiran demi menegakkan agama Allah ﷻ. Mereka mengorbankan segalanya demi meraih ridha Allah ﷻ dan membangun masyarakat yang berlandaskan nilai-nilai Islam.
Dalam Al-Qur'an, Allah ﷻ berfirman:
۞ وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً ۚ وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
Artinya: "Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian ia mati sebelum sampai tujuan, maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. An-Nisa: 100)
Hijrah bukan hanya sebuah peristiwa sejarah, melainkan juga sebuah konsep yang relevan sepanjang zaman. Hijrah adalah sebuah proses perubahan menuju kebaikan, meninggalkan segala sesuatu yang buruk dan mendekatkan diri kepada Allah ﷻ. Hijrah bisa berupa perubahan perilaku, peningkatan kualitas ibadah, atau kontribusi positif bagi masyarakat.
Sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ
Artinya: "Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah." (HR. Bukhari)
Kisah hijrah Nabi Muhammad ﷺ adalah inspirasi bagi kita semua untuk senantiasa berjuang di jalan Allah ﷻ, meninggalkan segala kemaksiatan, dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Marilah kita jadikan hijrah sebagai momentum untuk introspeksi diri, memperbaiki diri, dan berkontribusi bagi kemajuan umat dan bangsa.
Reference:
- Sirah Nabawiyah
- Ibnu Hisyam
Wallahu A'lam